Si Manusia Baja

17 Jun 2013

92b49d309f343c123fdcb21776aabaa3_images-1“Superman nya terbang lho,” ujar Bobby pada saya dan beberapa anak kecil lainnya yang duduk di lantai tepat di pintu masuk Rama Theatre sekitar tahun 1979….dahulu kala sekali. Saat itu saya berusia 5 tahun dan sangat antusias untuk menyaksikan si manusia baja ini di bioskop. Tentu saya tidak tahu apa itu Superman sebelumnya, saya hanya melihat di iklan-iklan koran bahwa inilah kali pertama ada manusia terbang.

Ayah saya adalah seorang penghibur sejati bagi putra sulungnya. Ia tahu bahwa saya begitu tergila-gila pada bioskop, iapun tahu bahwa Superman adalah kisah manusia super yang harusnya sesuai denganpara anak kecil. Itulah ia membawa saya ke bioskop yang kini telah tiada itu sore itu. Betul, kami datang sore hari namun harus puas bisa menyaksikan pertunjukan terakhir di sekitar pukul 21an malam. Karena tiket memang tiket pertunjukan seharian sudah habis.Disitulah saya bertemu Bobby dan beberapa anak seusia lainnya yang sampai hari ini tak pernah bertemu lagi dalam hidup saya.

Malam itu Superman menghipnotis saya dengan segala aksi terbangnya. Kemudian saya baru sadar bahwa si jagoan adalah adaptasi sempurna dari seri komik dengan judul yang sama. 2 tahun kemudian saya dengan antusias mengajak ayah saya untuk kembali menyaksikan Superman 2, sebuah sekuel sempurna yang mempertontonkan kesaktian Superman pada pertarungan-pertarungannya dengan trio Zod, Norm dan Ursa. Saya terpukau walau kemudian agak bete karena tiga penjahat Krypton itu tidak dilawan dengan optimal oleh manusia bumi lainnya.

0ab0e852d761b67dec04eaded02998c9_imagesTak ada angkatan bersenjata yang turun menghalau mereka, pertarungan melawan Si Manusia Baja praktis terlihat terlokalisir dan puncaknya saat death match di akhir film yang bagi saya (dan mungkin banyak anak kecil saat itu) bagai antiklimaks tak menyenangkan. Walau tetap kagum dan merasa bahwa inilah seri terseru dari kisah Superman, saya menggerutu pada ayah saya “Mustinya ada tu pasukan angkatan udaranya, angkatan lautnya kek biar seru,” ujar saya yang disambut oleh ayah saya “Nanti kamu aja yang bikin kalo udah gede,” kalimat hiburan yang sungguh menenangkan seorang anak berusia 7 tahun saat itu.

Jumat 14 Juni 2013, sekitar 32 tahun kemudian segala gerutuan saya dijawab dengan nyaris sempurna oleh Zack Snyder. Kisah Superman yang tak lagi untuk anak-anak ini dengan baik menggambarkan bagaimana pertempuran di 31 tahun lalu itu seharusnya terjadi. Sekelompok kecil ksatria Krypton dengan leluasa menghancurkan angkatan bersenjata Amerika Serikat, fantasi masa kecil saya bahwa Norm bisa saja mencabuti badan pesawat tempur bahkan saat ia sedang mengudara divisualkan dengan luar biasa oleh Zack dan timnya.

“Kalo gue orang Amerika, gue yang bikin film ini!” kata saya pada teman-teman yang nonton bersama saya. Persis seperti yang pernah ada di khayalan saya selama saya sejak usia 7 tahun (di tahun 1981 itu) sampai 3 tahun ke depannya. Khayalan yang kemudian berhenti begitu saja karena punya cita-cita jadi filmmaker saja saat itu saya tidak punya.

0bae67fe412654640019b86add829ff1_400fullMan of Steel membuat saya berpikir, bahwa imajinasi bukan sesuatu yang harus dipendam, apalagi jika ia begitu liar dan menggelora. Justru harus dicari pelepasannya…..dan itulah yang semoga bisa segera saya dapatkan.


TAGS Superman


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post