Teratur

17 May 2013

773eae2a6350fe9cf2b03f32032c5b46_p1020406“Kapan itu si Leandro pas baru sampe Barcelona belum apa-apa udah kejambret tas dan segala bendanya…paspor, uang, pakaian semua hilang. Meleng dikit gara-gara nelpon nanya dijemput di seblah mana tuh,” kisah Martin tentang pengalaman Leandro Waisbord kawan kami yang kini tinggal dan berkeluarga di Sao Paolo, Brasil. Seperti itulah kuran lebih potret Barcelona, tak hanya saat ini tapi dikenal sejak lama sebagai salah satu kota dengan nilai ketidak amanan yang memang cukup tinggi. Saya sendiri pernah nyaris kecopetan sampai untungnya tersadar bahwa yang mereka lakukan adalah pengalihan perhatian belaka. “Awal-awal kerja disini, saya juga penah ketinggalan tas di sebuah kafe, sekitar 5 menit balik lagi tas itu dikembalikan oleh seseorang yang melihat wajah panik saya,” kisah Martin tentang Nuremberg yang masuk tahun ke 6 ia tinggali.

Di bandara Haneda, Tokyo saya malah sempat “meninggalkan” dompet penuh dengan beberapa mata uang semalaman. Besoknya tanpa banyak tanya petugas kafe dengan ringannya memberikan pada saya dengan wajah datar saja, isi dompetpun tetap utuh bahkan sampai koin 1 RM yang praktis nilainya rendah itu. Inilah yang saya anggap sebagai kertaturan.

CORRECTION Japan EarthquakeTanpa tekanan penuh dari berbagai nilai reliji, ancaman hukuman atau berbagai keterikatan yang nyatanya tak banyak manfaatnya di negara kita, toh segalanya bisa berjalan sesuai aturan. Zebra cross benar-benar berfungsi, pejalan kaki menyeberang dan pengendara kendaraan akan berhenti memberi jalan. Masuk bus antri menanti yang di dalam bus keluar….sementara di negara saya bahkan elevator yang dijamin takkan pergi kemana, budaya menunggu yang di dalam keluar terlebih dulu juga tidak ada.

“Jadi sekarang udah gak perlu dianter lagi?” tanya Reinaart setengah meledek saya. Sore itu di sekitar awal tahun 2007 saya hendak kembali ke Budapest dari Rotterdam setelah 2 malam menghabiskan waktu bersama. “Ah tak usah, gampang kok,” ujar saya tersenyum…karena saya ingat 3 tahun sebelumnya ia harus mengantar saya sampai ke sisi rel karena saya kebingungan pada segala ketertiban di tempat-tempat itu.

“Kalian terlalu maju, saya yang terlalu tertinggal, biasa sembarangan, jadi bingung lihat keteraturan macam ini,” ujar saya meninggalkan Reinaart dan kembali bekerja di Budapest besoknya.


TAGS travel discipline


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post