Melihat Jepang

15 May 2013

5bfde1d359794cb478cb816af2efdda7_5209862669_aa37445943_zSepanjang hidup, Jepang bukanlah tujuan saya untuk melihatnya. Masa kanak-kanak maupun remaja saya tidak terisi oleh Jepang atau segala bentuk penetrasi budayanya dengan baik. Saya memang penggemar Voltus V atau Go Sigma, tapi sampai ingin datang ke Jepang….sepertinya tidak. Bayangan saya orang-orangnya gemar berteriak (di film-film mereka ini sering terjadi) kejam-kejam (di film mereka jika membunuh sadis banget) dan tampak lugu serta polos jika melihat versi film Hollywood atau Eropa.

Nyatanya praktis Jepang adalah negara butuh visa dengan jarak tempuh lumayan (lebih lama Jakarta-Timika sih) yang paling sering saya kunjungi sekarang ini. Hanya dalam tempo 2,5 tahun saya sudah datang kesini sebanyak 3 kali. Pertama saat diundang di edisi pertama Yokohama International Football Film Festival, lalu saat Barcelona menjuarai Piala Dunia Antar Klub dan yang terkini adalah hari-hari ini bersama seluruh anggota keluarga saya.

Liburan yang kami rancang sejak jauh hari ini memang sengaja menuju negara yang di mata sineas Eropa maupun Hollywood ini selalu eksotis ini. Saya juga menemukan keeksotisan itu bahkan di kunjungan yang ketiga ini. Saya terkesan pada orang-orangnya yang jika di film Hollywood digambarkan lugu, polos dan bahkan kadang bodoh menjadi sopan dan jujur. Dengan sempurna mereka menerjemahkan kekayaan budaya mereka–yang tak butuh label beragam itu dan mungkin memang tidak beragam–menjadi bentuk-bentuk yang mengasyikkan.

1ad86e06a3962715aa76963a74113d3b_3007_02Kekayaan desain mereka yang warna warni jelas terpengaruh Amerika Serikat yang memang adalah negeri kulit putih pertama yang datang ke negeri ini saat Meiji membuka Jepang pada dunia luar. Tapi serapan gaya, dandanan, desain bahkan sinema atau musik sekalipun jelas tetap terasa unsur Jepangnya. Mereka punya cara sendiri mengungkapkan kekerasan dalam sinemanya, musik rock yang berdandan dengan cara mereka sendiri, gaya berpakaian di jalan yang juga ala mereka sendiri, bahkan saya rasa Tokyo adalah kota dengan jumlah pekerja berpakaian setelan jas lengkap terbanyak dari sekian banyak kota yang pernah saya datangi.

a4409f5e2ebf1e01722d2d2ea8dac71d_shibuya-gyaru-culture-japan-003Di blogpost sekitar 1 atau 2 tahun lalu saya pernah menulis bahwa mereka memang tak butuh bahasa Inggris. Karena justru pengguna bahasa itulah yang sebaiknya belajar bahasa mereka, karena praktis segala sumber modal kini ada disini. Industri otomotif, elektronik sampai segala teknologi pangan dan kelautan semua ada disini. Tak ada lagi alasan bagi para penonton film barat untuk menertawakan mereka yang nyatanya tidak berkehidupan agama seperti yang selama ini kita atau bahkan barat pahami.

“Katanya si anu itu ya yang bikinin Jepang sistem pembinaan pemain muda disini?” tanya saya pada seorang teman yang juga salah satu pejabat J-League, operator kompetisi Sepakbola di Jepang. “Dia bikin akademi sih iya, kami ambil satu dua juga iya…tapi pakai sistem dia gak juga ah, kenapa?” jawab Kei. Saya tersenyum sedikit dan merespon “Di Indonesia dia bilang kalau dia yang bikin konsepnya sih,” Ia balik tersenyum “Di Qatar dia lagi bikin sesuatu dan juga bilang hal yang sama sih,”

95f17969ee5b4554b9046b1238f16506_p1030145“Barat banget deh, ke kita selalu bilang mereka yang bikin ini dan itu, padahal cuma kita pake sedikit aja,” ujar saya. Kawan saya itupun tertawa, saya lalu menambahkan “Sama kayak Indonesia, kalian ke Jakarta 3-5 hari lihat-lihat kompetisi semi pro kami di tahun 1980an, lalu kami bilang bahwa kalian tiru kami…..padahal jelas-jelas kalian sudah riset tentang industri Sepakbola selama 10 tahunan,” Kawan saya itupun terbahak, mata saya kembali ke laga seru Urawa Reds vs Kashima Antlers sembari berpikir “Indonesia emang kayak barat, semua sok barat, ngeliat bangsa yang deket-deket aja via barat, sampe musik aja udah kayak orang barat,”


TAGS jepang sepakbola jalan jalan


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post