Perut Golput

14 May 2013

65284796ab917c34bcbae407962bc787_img_2550“Chinese eat everything can move….including fan,” ledek almarhum Aheng Suhendar kawan saya saat ia masih rajin tertawa bersama kami. Memakan fan memang sungguh luar biasa, tapi menurutnya “Fan bergerak dan tak akan lari, beda dengan mobil yang bisa minggat,” tambahnya. Saat itu kami sedang menyaksikan sebuah tayangan dokumenter tentang bagaimana proses memasak seekor penyu….dari sejak hidup, disembelih/dimatikan sampai akhirnya dimasak. “Penyu itu hewan paling kuat, matinya susah banget!” timpal Edmond Waworuntu kawan lainnya yang juga melihat acara tersebut.

Alm Aheng sebenarnya tidak bermaksud menertawakan, tapi ia miris dengan usaha keras pedagang di sebuah desa di negeri China itu dalam “membinasakan” si penyu agar siap dimasak. Bahkan saat kepala dan pelindung tubuhnya telah tak ada, penyu masih sungguh hidup dan bergerak bahkan cenderung masih melawan. Pengalaman menyaksikan inilah yang lalu memang membuat saya praktis berhenti memakan penyu, walau rasanya luar biasa enak….bayangan saat menjelang benar-benar mati dan dimasak itu terus menghantui saya saat melihat menu ‘penyu’.

fe37923bb89fbdd48b8f750ea8c313ca_img_4510Saya juga pemakan segala dan tentu saja almarhum kawan saya itu tidak tahu. Walau saat itu levelnya masih memakan apapun yang ada, belakangan prilaku makan saya sama sekali tidak lagi bertanya, terutama di tempat-tempat yang tidak paham dengan aneka bahasa yang saya kuasai.

Begitulah, disamping bahasa Inggris, Melayu dan Inggris serta sedikit Perancis yang bisa dipakai diluar negeri asal. Saya lumayan fasih berbahasa Jawa, Sunda dan Minang serta sedikit dialek Betawi yang tentu saja sangat sulit digunakan diluar Indonesia (kecuali suatu siang di London beberapa tahun silam saat bertanya arah ke kedubes, saya menggunakan bahasa Sunda hehehe)

89a9e337fe08860bb511b95c70400d69_img_8969Normalnya saya akan main tunjuk dan itu persis dengan yang terjadi dalam 2 minggu ini. Setelah melakukannya berulang kali di Jerman, saya melakukannya lagi dalam 2 hari ini di Tokyo. Tak jelas apa yang saya makan di Jerman, pastinya dagingnya tebal tak terkira dan porsinya bagai gorilla. Di Jepang jelas lebih parah, saya yang tak paham sama sekali bahasa Jepang apalagi tulisan kanjinya yang mantep itu jelas akan main tunjuk saja via foto dan penampilan di buku menu.

Jarang sih saya kecewa dengan yang saya makan, tapi yang sering saya melihat menu orang di sebelah saya tampak lebih meyakinkan ketimbang yang tersaji di depan saya. Jadilah saya memesan ulang dengan ala bahasa tarzan yang memikat itu. Di Almaty dan Pusan (juga Seoul) saya sama sekali tak punya peluang untuk bertanya. Saya pernah memakan sesuatu yang terlihat berenang di kolam, berbentuk bagai belut namun saat dimasak rasanya luar biasa tak terlupa sampai hari ini. Pernah bertanya apa nama makanan itu, tapi boro-boro saat ini masih ingat.

7ab1e500b649d16ad13d4b6d7f6f0b98_img_2731Persis di Almaty, sesuatu yang tadinya saya kira daging rusa nyatanya adalah daging kuda. Sepiring penuh bumbu sayur, tulang lunak dan sedikit jeroan bagian makanan Myanmar yang saya kira adalah gerombolan organ sapi, kerbau, atau apapun itu ternyata adalah daging buaya dan tulang muda serta kemaluan hewan paling eksklusif di Indonesia……hehe. Belum pula di Manipur dan banyak makanan lainnya, yang males bener nanya….nanti sensasinya ilang.

Karena hidup cuma sekali, tak baik kelamaan milih-milih apa yang akan dimakan….


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post