Germany After 9 Years

6 May 2013

“Tunggu aja bus yang jam 09.58 kalau mau sampe di kota sekitar jam 1015,” ujar Michael Mandl yang rumahnya kami tumpangi di pertengahan tahun 2004 itu setelah mengecek jadwal bus lewat internet. Ia sekaligus menjelaskan bahwa dari rumahnya sampai ke halte bus terdekat sekitar 5 menit. Maka pergilah saya dan Tika ke setopan tersebut dengan pemahaman bahwa kami akan naik bus jam 10.00, maka jadilah kami harus menunggu sekitar 10 menit kemudian untuk kedatangan bus selanjutnya di suhu sekitar minus 2 derajat yang membuat waktu berjalan lambat.04fe136a2ba7d24252fbc3d26fcade37_p1020453

Saya senang kembali lagi ke negeri ini, negeri Eropa pertama yang saya datangi sekitar 9 tahun lalu. Saat itu saya datang untuk sebuah festival film pendek di kota kecil bernama Regensburg yang sebelumnya tak pernah saya dengar sama sekali. Masih segar dalam ingatan saya kata-kata Max (yang ditugaskan menjemput di stasiun kereta) “Kalian beruntung, pertama kali ke Eropa langsung datang ke kota terindah di Jerman,”

Setelah itu saya berturut-turut datang ke Jerman. Sebagai siswa Berlinale Talent Campus di tahun 2005, ikut festival film di Oberhausen, pameran video art sepanjang Piala Dunia 2006, sampai sekejap tinggal di kota Berlin di tahun yang kurang lebih sama. Negeri yang pernah takluk dua kali di perang dunia ini sungguh memberitahu saya bahwa disiplin Jepang yang setiap hari saya dengar saat kecil dulu dan menjadi rahasia sukses mereka, juga dimiliki oleh bangsa Jerman (dan sebenarnya juga oleh banyak bangsa lain)

Waktu adalah salah satu contoh jelas, praktis di negeri ini saya tak pernah mendapatkan terlalu cepat atau terlambat bahkan semenit sekalipun. Sementara di Inggris atau Perancis saya jelas sering merasakan keterlambatan 1, 2 atau bahkan beberapa menit, Jerman tidak. Saya tidak pernah tahu bagaimana mereka melakukannya, pastinya situasi jalan sekampret apapun bukanlah alasan untuk muncul terlambat bahkan 1 menitpun. Di tempat ini waktu begitu dihargai, tak hanya itu apapun yang dikerjakan sangat direncanakan dan sistematik.

Sebut saja pembangunan fasilitas transportasi massal di sebuah jalur baru kota Berlin, dari sejak batu pertama sampai peluncurannya nanti disiapkan dalam kurun 8 tahun. Hal yang kurang lebih sama dengan di Singapura yang sedang menyiapkan dua jalur di selatan negerinya yang disiapkan dalam kurun waktu 6 tahun. Tak ada rencana yang malam hari diimpikian, pagi hari dicetuskan dan sore hari sudah keluar jadwal rilisnya seperti yang biasa terjadi di negara kita. Perencanaan adalah hal yang saya pahami menjadi fondasi penting dalam hal apapun.

Saat magang di sebuah studio di kota Berlin dulu, saya masih ingat bagaimana presisi pekerjaan ditentukan lewat hitungan diatas meja yang tegas. Tak ada saat produksi harus mengejar waktu tayanghal yang kemudian saya kenal akrab dinegeri sayatak ada juga jam syuting yang berlebih karena semuanya disiapkan dengan benar. Tak ada hal-hal diluar hitungan, jikapun kemudian ada segala hitungan alternatif telah disiapkan untuk mengatasinya.

Tulisan ini saya buat di sebuah kereta dari Berlin menuju Nurnberg, menjumpai kawan lama yang berkata bahwa ia telah menuntaskan mimpinya Menciptakan design jersey bagi tim nasionalku, telah bertemu pula dengan Tuhannya Ia menepuk kepalaku dan memuji hasil kerjaku, sembari memamerkan foto dirinya dalam pelukan Maradona.

Perjalanan yang saya tempuh dari jam 10.38 dan akan tiba di pukul 15.24 nanti, Martin Tibabuzo asal Argentina itu katanya siap menjemput saya di stasiun utama Nurnberg. Di perjalanan kali ini, saya menikmati setiap detik suasana dalam keretaseorang lelaki tua (yang tampaknya) asal Korea yang duduk dengan kopinya, ibu muda dengan anaknya yang mengambil seluruh ruang duduk di bangku depan saya, pasangan gay yang sungguh mesra, kursi dengan meja yang diisi dengan komputer ini, film-film di dalamnya dan sebotol bir yang di negeri ini harganya lebih murah dari sebotol air mineral.

118ea4df0d058e1850532c64624b7c0f_dscn5441 Saya tak lagi seperti 9 tahun lalu.yang terus menjerit “Ih kayak di film!” “Lihat deh sungai itu kayak di film!” “Waduh ini angsa-angsanya kayak di film!” dst dst kepada Tika yang duduk di samping saya saat itu. Saya menikmati saat-saat ini, karena Eropa bagi saya bukan lagi ada dalam film. Pernah suatu hari saya merasakan cara hidup di tempat ini dan belum ada yang pernah tahu, bahwa siapa tahu di kemudian hari saya bisa kembali mewarnai hidup saya dengan cara yang pernah saya rasakan.tentu sebagai Yusuf yang sama sekali berbeda setidaknya Jerman kali ini memberi saya keinginan untuk kembali mengisi blog ini


TAGS Nurenberg berlin


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post